Kalbar Sepekan – Gelandang Ricky Kambuaya menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan dirinya menerima serangan rasial usai memperkuat Dewa United saat menghadapi Persib Bandung dalam pekan ke-28 BRI Super League. Insiden tersebut mencuat pada Selasa (21/4/2026) melalui unggahan di media sosial pribadinya.
Melalui akun Instagram @richardo_r55, Kambuaya membagikan tangkapan layar berisi komentar dan pesan langsung bernada rasis yang diterimanya dari sejumlah akun. Dalam unggahan tersebut, ia memperlihatkan kalimat yang dinilai sangat merendahkan, termasuk menyamakan dirinya dengan hewan.
“Bagaimana bisa? Monyet bermain sepak bola di level profesional,” tulis Kambuaya dalam unggahannya. Ia juga menambahkan sindiran terhadap pelaku dengan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk rasisme yang masih terus terjadi.
Peristiwa ini terjadi setelah pertandingan sengit antara Dewa United melawan Persib Bandung, yang berakhir imbang 2-2. Dalam laga yang berlangsung sebelumnya, Kambuaya tampil cukup menonjol dengan mencetak gol kedua bagi timnya pada menit ke-61, memanfaatkan umpan dari rekannya. Namun situasi berubah setelah salah satu pemain Dewa United menerima kartu merah, yang kemudian memengaruhi jalannya pertandingan hingga Persib berhasil menyamakan skor.
Serangan rasial yang diterima Kambuaya bukan menjadi kasus pertama yang menimpa pemain Dewa United. Sebelumnya, bek asal Brasil, Johnathan Carlos Pereira, juga mengaku mengalami hal serupa dan menyampaikan respons melalui akun media sosialnya sehari sebelum unggahan Kambuaya.
Fenomena rasisme dalam sepak bola Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut kerap dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang bersembunyi di balik akun anonim di media sosial. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan mental dan kenyamanan para pemain, terutama mereka yang berkiprah di level profesional maupun internasional.
Dari sisi waktu dan tempat, serangan rasial ini terjadi pasca pertandingan pekan ke-28 liga nasional yang berlangsung pada April 2026, dengan dampak yang langsung dirasakan pemain melalui platform digital. Dari sisi alasan (why), tindakan tersebut diduga dipicu oleh emosi sebagian oknum suporter terhadap hasil pertandingan, meskipun tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun.
Sementara dari sisi bagaimana (how), serangan dilakukan melalui komentar publik dan pesan pribadi di media sosial, yang kemudian diungkap langsung oleh korban sebagai bentuk perlawanan sekaligus edukasi kepada publik.
Sejumlah pemain Tim Nasional Indonesia dan pecinta sepak bola turut mengecam keras tindakan rasisme tersebut. Mereka menyerukan pentingnya menjaga sportivitas serta menghormati setiap pemain tanpa memandang latar belakang ras, suku, maupun warna kulit.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi terkait langkah hukum atau sanksi terhadap pelaku. Namun, kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa upaya pemberantasan rasisme di dunia sepak bola Indonesia masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari federasi, klub, hingga masyarakat.
Ricky Kambuaya sendiri tetap menunjukkan sikap profesional di tengah situasi yang dihadapinya. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar sepak bola Indonesia dapat berkembang menjadi lebih sehat, inklusif, dan bebas dari diskriminasi.
Penulis : ChD | Editor : Multi J.



