Kalbar Sepekan – Kondisi Ekonomi Indonesia pada 2026 kembali menjadi sorotan setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp17.660 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5/2026). Situasi tersebut mendorong Komisi XI DPR RI memanggil jajaran pimpinan Bank Indonesia untuk membahas perkembangan ekonomi nasional dan stabilitas moneter di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo bersama sejumlah deputi gubernur terlihat menghadiri rapat kerja di DPR. Meski agenda resmi membahas laporan kinerja Bank Indonesia tahun 2025, pelemahan rupiah yang semakin dalam menjadi perhatian utama publik dan pelaku pasar.
Rupiah Indonesia Melemah di Tengah Tekanan Global
Berdasarkan data perdagangan, rupiah sempat melemah lebih dari satu persen hingga berada di posisi Rp17.660 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Indonesia terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS di pasar global akibat ketegangan geopolitik, arus modal asing, serta kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi dunia.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto sempat menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait pelemahan rupiah. Dalam kunjungannya ke Nganjuk, Presiden mengatakan masyarakat desa tidak terlalu bergantung pada dolar AS dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan itu kemudian memicu diskusi panjang mengenai fondasi Ekonomi Indonesia yang dinilai lebih bertumpu pada sektor riil dan aktivitas masyarakat di daerah dibanding pasar finansial global.
Pandangan tersebut dinilai memiliki dasar kuat karena selama ini konsumsi rumah tangga dan sektor pangan memang menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Aktivitas ekonomi di desa, seperti pertanian, perdagangan pasar tradisional, hingga usaha kecil, tetap berjalan meskipun pasar global mengalami gejolak.
Namun sejumlah ekonom mengingatkan bahwa masyarakat desa tetap akan terkena dampak pelemahan rupiah secara tidak langsung. Pengamat ekonomi Universitas Airlangga, Gigih Prihantono, menyebut Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap barang impor, mulai dari bahan baku industri, pupuk, elektronik, hingga kendaraan bermotor.
Menurutnya, ketika nilai tukar rupiah melemah, harga barang impor akan meningkat dan akhirnya memicu kenaikan harga di tingkat masyarakat. Dampaknya bisa dirasakan baik di kota maupun di desa karena kebutuhan pokok dan barang sehari-hari banyak berkaitan dengan pasar global.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, juga menilai pelemahan rupiah dapat memengaruhi biaya hidup masyarakat desa. Ia menyebut harga pupuk, LPG, alat elektronik, hingga kendaraan berpotensi naik apabila kurs dolar terus menguat terhadap rupiah.
Selain itu, kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan efek domino terhadap dunia usaha dan lapangan pekerjaan. Jika tekanan ekonomi terus berlangsung, bukan tidak mungkin terjadi perlambatan investasi hingga pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor industri.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya transportasi, kesehatan, dan subsidi energi pemerintah. Ketika pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk subsidi dan pembayaran utang luar negeri, ruang fiskal untuk pendidikan dan perlindungan sosial bisa menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, di balik tekanan tersebut masih terdapat peluang bagi Ekonomi Indonesia. Pelemahan rupiah dapat membuat produk ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional. Dosen FEB UGM Eddy Junarsin menilai kondisi ini bisa mendorong peningkatan ekspor serta membuka peluang investasi asing pada sektor-sektor tertentu.
Sektor pertanian, perikanan, dan industri berbasis sumber daya alam disebut memiliki peluang lebih besar untuk berkembang apabila didukung kebijakan yang tepat. Karena itu, pemerintah didorong memperkuat sektor riil, memperluas hilirisasi industri, serta mempermudah regulasi bagi pelaku usaha agar daya tahan ekonomi nasional semakin kuat.
Di tengah tekanan global, masyarakat kini berharap pemerintah dan Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas Ekonomi Indonesia melalui kebijakan yang tepat dan terukur. Stabilitas nilai tukar rupiah, pengendalian inflasi, serta perlindungan terhadap daya beli masyarakat menjadi faktor penting agar kondisi ekonomi tetap terkendali.
Banyak pihak menilai kekuatan utama Ekonomi Indonesia memang berada pada pasar domestik, sektor pangan, dan aktivitas masyarakat akar rumput. Namun di era globalisasi saat ini, gejolak ekonomi dunia tetap memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, pemerintah dituntut tidak hanya membangun optimisme, tetapi juga memastikan kebijakan ekonomi benar-benar mampu menjaga kestabilan dan kesejahteraan rakyat di tengah situasi global yang terus berubah.
Penulis : ChD | Editor : Multi J.



