5 Mei 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaBeritaRupiah Indonesia Melemah di Tengah Tekanan Global

Rupiah Indonesia Melemah di Tengah Tekanan Global

Kalbar Sepekan – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level sekitar Rp17.400 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan global yang dipicu ketidakpastian geopolitik dan penguatan dolar AS sebagai aset aman. Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh Bank Indonesia yang menyatakan akan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G Hutapea, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan fenomena yang berdiri sendiri. Sejak memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, mayoritas mata uang negara berkembang turut mengalami tekanan. Rupiah tercatat melemah sekitar 3,65 persen, sementara mata uang lain seperti peso Filipina dan baht Thailand juga mengalami depresiasi yang cukup signifikan.

Cinema XXI Bolehkan Bawa Tumbler Isinya Air Mineral

Cinema XXI Bolehkan Bawa Tumbler Isinya Air Mineral

Pada Selasa (5/5/2026), rupiah bahkan sempat berada di kisaran Rp17.410 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan hari sebelumnya. Level ini menjadi salah satu titik terlemah rupiah dalam sejarah perdagangan intraday, sekaligus mencerminkan tingginya tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik.

Menurut BI, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini mendorong investor global beralih ke dolar AS yang dianggap lebih aman, sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung tertekan.

Selain faktor geopolitik, penguatan indeks dolar AS juga menjadi pemicu utama pelemahan rupiah. Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, permintaan terhadap dolar meningkat tajam. Dampaknya, mata uang di kawasan Asia bergerak bervariasi, namun sebagian besar tetap berada dalam tekanan.

Meski demikian, BI memastikan telah mengambil langkah konkret untuk meredam gejolak tersebut. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan pasar sekaligus memastikan likuiditas tetap terjaga. BI juga menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan belum meredanya ketegangan global serta masih kuatnya posisi dolar AS di pasar internasional. Namun, pelemahan diperkirakan tidak akan terlalu dalam karena pelaku pasar juga menunggu data ekonomi domestik, termasuk pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.


Di sisi lain, kondisi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas nilai tukar sangat dipengaruhi dinamika global. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak eksternal.

Dengan berbagai langkah yang telah disiapkan, pemerintah dan BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dengan baik, sehingga tidak berdampak signifikan terhadap daya beli masyarakat maupun stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Penulis : ChD | Editor : Multi J.

IKUTI BERITA KAMI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Iklan Kami -spot_img

Postingan Terbaru