Pontianak, kalbarsepekan.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi mengidentifikasi spesies baru terong berduri asal Kalimantan yang diberi nama ilmiah Solanum kalimantanense. Tanaman yang populer di kalangan masyarakat lokal sebagai “terong asam” atau “terong dayak” ini dinyatakan sebagai temuan spesies baru, namun statusnya dinilai rentan punah di masa mendatang.
Temuan ilmiah ini diterbitkan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 (2026) dengan judul “A New Spiny Eggplant Species of the Genus Solanum L. (Angiosperms: Solanaceae) from Indonesian Borneo”.
Bakcang Run 2026 di Singkawang Resmi Luncurkan Jersey
Riset panjang ini dilakukan selama tiga tahun (2022–2024) oleh tim peneliti BRIN yang terdiri dari Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, Muhammad Rifqi Hariri, dan Siti Susiarti. Namun, laporan awal riset yang menyebutkan wilayah sebaran dominan hanya di Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) langsung menuai reaksi dari warga Kalimantan Barat (Kalbar).
Aktivis Kalbar Sebut Solanum kalimantanense Justru Lebih Banyak di Kalimantan Barat
Salah satu aktivis lokal Kalimantan Barat, Hatari, mengungkapkan bahwa tanaman Solanum kalimantanense sebenarnya sangat melimpah di wilayah Kalbar, bahkan jauh sebelum riset ini dipublikasikan.
“Min, kok wilayah sebarannya cuma di Kaltim dan Kalsel, padahal di Kalbar betabayak (banyak sekali) di tiap ladang dari zaman dulu,” ujar Hatari mengkritisi wilayah pemetaan riset tersebut.
Menurut Hatari, hampir di setiap ladang milik masyarakat Dayak di Kalimantan Barat bisa dengan mudah ditemukan tanaman terong asam ini. Bagi masyarakat Kalbar, buah ini sudah menjadi bagian dari kearifan lokal kuliner sehari-hari, salah satunya sebagai bahan campuran wajib agar masakan seperti ikan asam pedas terasa lebih asam dan gurih.
Karakteristik Fisik dan Manfaat Solanum kalimantanense
Berdasarkan keterangan resmi peneliti BRIN, Esthi L. Agustiani, pada 23 Mei 2026, identifikasi spesies baru ini menggunakan pendekatan integratif yang menggabungkan pengamatan morfologi (fisik) dan teknologi molekuler (DNA barcoding).
Meskipun sekilas mirip dengan kerabat dekatnya (Solanum lasiocarpum), Solanum kalimantanense memiliki ciri khusus yang membedakannya:
- Bentuk Daun: Panjang dan lebar daunnya hampir sama dengan lekukan yang dangkal.
- Karakteristik Buah: Saat matang, permukaan buah berbulu halus dan jarang, serta memiliki ukuran buah yang jauh lebih besar.
- Potensi Pangan & Obat: Selain menjadi campuran masakan dan sambal, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara, juga memanfaatkan daun dan kuncup buahnya sebagai obat tradisional kanker yang dikenal dengan istilah ‘wikat’.
Meskipun buah ini sangat akrab di kehidupan masyarakat Dayak, kajian awal BRIN menunjukkan bahwa populasi Solanum kalimantanense yang terdokumentasi secara ilmiah cenderung terbatas, sehingga berpotensi masuk ke dalam kategori Rentan (Vulnerable) menurut standar IUCN.
Fakta Ilmiah dan Data Singkat Solanum kalimantanense
| Atribut Informasi | Detail Spesies |
|---|---|
| Keyword / Nama Ilmiah | Solanum kalimantanense (Salanum kalimantanense) |
| Nama Lokal | Terong Asam, Terong Dayak, Terung Asam |
| Lembaga Penemu | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) |
| Publikasi Jurnal | Taprobanica Volume 15 Nomor 1 (2026) |
| Metode Identifikasi | Morfologi Fisik & DNA Barcoding (Molekuler) |
| Klaim Sebaran Lokal | Melimpah di ladang masyarakat Dayak Kalimantan Barat (Kalbar) |
| Manfaat Utama | Campuran masakan (ikan asam pedas) & Obat tradisional kanker (Wikat) |
| Status Konservasi | Berpotensi Rentan Punah (Vulnerable – IUCN) |
Penulis : ChD | Editor : Multi J.



